“Berbahagialah mereka yang masuk penjara karena diberi kesempatan
membuka batinnya, menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi, dan
menemukan keseimbangan baru. Berbahagialah mereka yang tak mengalami
penjara dan menemukan inspirasi dari yang tak dialami. Keduanya
menemukan keseimbangan saling memahami.” (Arswendo Atmowiloto).
Penjara, rutan, atau lapas, itu yang biasa kalian kenal, sebuah tempat
pengasingan dari masyarakat yang menolak kebradaan kami. Tampak luar
dihiasi taman nan indah, tapi jika kau kedalam nya, kau akan melihat
dinding yang penuh noda dengan sel-sel besi yang berkarat.
Penjara adalah sebuah cara bagi seseorang untuk mengoreksi dirinya.
Sungguh amat keterlaluan, jika seseorang sudah masuk penjara tapi tidak
berhasil melakukan koreksi atas dirinya. Menjadi penghuni penjara, kita
dapat mengukur siapa teman yang setia dan siapa yang tidak.
Di penjara semua temanku biadab. Perlahan mengenal mereka. Jika ingin
mengenal mereka pelan-pelanlah. Tunggu sampai mereka menanyakanmu apa
yang kau tahu. Jangan lakukan gerakan tiba-tiba. Kau tak tahu separuh
dari aniaya. Selamat datang di ruang orang-orang penunggu ampunan. Yang
punya ruang untuk orang-orang yang pernah mereka lukai. Hanya karena
kami menembakkan pistol di kehidupan atau berlaku jahat. Tak berarti
otak kami akan berubah dari granat tangan.
Kau takkan pernah tahu siapa yang duduk di sebelahmu. Kau takkan pernah
tahu pembunuh yang duduk di sebelahmu. Kau hanya pasrah bersamanya
didalam ruang penunggu ampunan (penjara), tidur bersama
bersempit-sempitan. Kau kan berpikir, "Bagaimana aku bisa sampai di
sini, duduk di sebelahmu?"
Tapi setelah semua yang kukatakan. Janganlah lupa, kita adalah napi.
Kami tak pandai berurusan dengan orang luar dalam kehidupan masyarakat.
Mereka bilang para pendatang punya bau khusus, bau penyesalan segar. Kau
punya masalah kepercayaan, tak mungkin mempercayai seorang napi apalagi
kami. Mereka bilang mereka bisa membaui niatmu, kami disini ingin
tobat, ingin menebus kesalahan kami, terbukti dari kegiatan kami
beribadah bersama. Bukan hanya itu, kami napi, makan bersama secara
terjadwal, pagi, siang, malam, kami mengobrol dengan logat masing2 dan
tertawa melupakan sejenak masalah kami, dengan musik gendang dan alunan
gitar khas napi.
Mengapa aku datang, kedalam penjara, kau tahu harusnya aku tak tinggal.
Telah kucoba memperingatkan untuk menjauh. Dan kini mereka dia luar siap
menyerbu.Tampaknya kau mungkin salah satu dari kami. Jika bukan, kau
harus kunjungi kami sebelum kau mati. Banyak kisah-kisah inspirasi yang
menarik dari kami penghuninya. Kami jiwa-jiwa yang terasingkan dari
dunia luar justru banyak menelurkan karya-karya dari sana. 'Ruang
penjara adalah sekolahku', demikian salah satu kutipan dari Soekarno
presiden pertama Indonesia. Penjara memang pendidikan terakhir bagi
manusia. Terus berpikir besar meski didalam ruang sempit.
“Semua ruang adalah sel, semua persoalan adalah uji nyali, semua
orang adalah guru, semua hari adalah hari Minggu, dan semua malam adalah
malam Minggu. Jadi, nikmatilah apa yang kau rasakan sekarang di mana
pun dan kapan pun, sekali pun itu di balik jeruji.” ( Miko Jatmiko )
Filosofi Napi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar